Going Crazy Part 2

cover ff going crazy part 4

Tittle                          : Going Crazy Part 2 !

Nama Author            : Ekaphrp / @EPH0918  / NuNa Ekaa Harahap

Genre                         : Friendship, Family, Comedy

Rate                            : All Age

Cast                            : 1. Ham Eunjung 2. Park Hyomin  3. Park Jiyeon 4. Other Cast

                         

Desclimer : Cerita ini dibuat dengan sesadar – sadarnya penulis dan dengan ide cerita yang murni dari pikiran penulis.  Dikarenakan selera humor orang yang berbeda – beda jadi mohon maaf kalo FF ini mengandung komedi yang garing. Krik krik krik.

——————————————————————————————————————–

“Kau lembur?”

Eunjung menggeleng sambil terus tersenyum.

“Apa kau ada acara sore ini?” Tanya Taecyeon lagi.

Eunjung menggeleng lagi. Ia terlihat seperti orang yang tengah terhipnotis. Hanya memandang wajah pria dihadapannya sambil menjawab dengan isyarat. Senyum bahkan tak luput dari pancaran wajahnya.

“Baiklah.. Apa kau ingin menemaniku?”

“Eh?”

Detak jantungnya yang semula normal menjadi seperti dentuman gendang yang sangat kuat. Duk duk duk, begitulah bunyinya.

“K-K-Kemana?” Tanya Eunjung, lagi.

“Nanti kau akan tahu.. Baiklah, aku permisi.”

Eunjung menghela nafas lega. Entah apa sebabnya, ia selalu saja gugup berhadapan dengan Taecyeon.

Melihat punggung pria itu yang terus berjalan melaluinya. Eunjung pun memandang dengan penuh kekaguman. Ia merasa sangat sangat menyukai pria tersebut.

Masih dalam posisi yang sama, Eunjung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Ia harus mengatakan sesuatu pada Hyomin.

“Ya Eonni, ada apa?” Tanya suara manis dari seberang sana.

“Hyomin-ah.. Saat jam makan siang, bisakah kau ambil mobilku di kantor lalu menjemput Jiyeonie?”

“Mengapa? Apa kau lembur?”

“Tidak.. Aku ada urusan penting. Haha.”

Gelak tawa Eunjung membuat gadis yang sedang diteleponnya curiga. Namun gadis itu menyimpan dalam – dalam kecurigan tersebut.

“Oh.. Baiklah.. Eh tapi.. Mengapa aku harus menjemput Jiyeonie? Bukankah dia sudah pasti diantar Jinwoon?”

“Jinwoon tidak datang ke sekolah. Gadis itu mengatakan padaku untuk menjemputnya.”

“Oh baiklah..”

“Ya sudah..”

Eunjung pun menutup sambungan telepon itu dengan segera dan kembali ke ruangannya. Ia tidak yakin jika Park Soyeon tidak sedang bercuap mencari keberadaannya.

 ***

Sebuah mobil putih terpakir dihalaman sekolah Hyundai. Gadis yang berada di dalamnya hampir mati karena terlalu bosan menunggu.

“Dimana Jiyeon, mengapa dia belum keluar? Sigh~”

Banyak siswa siswi yang berlalu lalang didepan mobilnya, namun tak ada satu pun wajah yang menyerupai anak itu.

Tak lama suara pintu mobil terbuka, tepatnya pintu belakang mobil tersebut. Hyomin pun menoleh dan mendapati Jiyeon dengan seorang gadis bertubuh tirus.

“Mengapa kau lama sekali?” Tanya Hyomin, kesal.

”O-Eonni.. Mengapa kau yang menjemput?”

Jiyeon tidak sadar jika yang duduk dibangku supir adalah kakak kandungnya. Hyomin tidak menggubris pertanyaan Jiyeon sebelumnya karena penasaran dengan sosok yang ikut duduk disampingnya.

“Siapa dia?” Tanya Hyomin, pelan.

“Ini Kim Danee, sahabatku.”

“Ah anyeonghaseyo Eonni!!” Sapa Danee dengan ramah.

“Oh anyeong!!”

Perkenalan singkat itu berlalu. Kini Jiyeon dibuat bertanya – tanya mengapa yang menjemputnya bukan Eunjung melainkan Hyomin.

“Dimana Eunjung Eonni, mengapa kau yang menjemput?”

“Ah.. Ya.. Bicara tentang gadis yang satu itu, sepertinya hari ini kita harus bekerja keras Park Jiyeon.” Papar Hyomin setengah berbisik.

“Apa maksudmu?”

“Nanti saja, kau pasti akan tahu.”

Hyomin mengambil jeda sebelum berbicara lebih lanjut.

“Ah Danee-yah, dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu. Maaf karena kau tidak bisa terlibat dalam misi hari ini..”

Ucapan Hyomin saat itu terdengar sangat berlebihan dan membuat Jiyeon malu. Danee yang polos bahkan tidak mengerti apa – apa, hanya menyernyitkan dahi hingga terlihat kerutan kecil disana.

“Oh.. Itu.. Aku.. Didaerah Gangnam, Eonni..”

“Baiklah.. Let’s go!” Seru Hyomin begitu antusias.

Terlihat Danee memandangi Jiyeon. Bagaimana bisa ia memiliki kakak dengan kepribadian yang aneh seperti itu.

***

“Apa?! Rapat mendadak!” Pekik Eunjung ditengah heningnya kantor sore itu.

Beruntung hanya ada Boram dan beberapa pegawai biasa. Jika saja disana ada makhluk bernama Park Soyeon, mungkin Eunjung tidak akan seberani itu.

“Pelankan suaramu, Ham Eunjung!” Titah Boram yang terus sibuk menyiapkan berkas.

“Yah Sunbae! Sore ini aku sudah ada janji, kumohon bantu aku!!”

Eunjung menarik lengan kecil Boram. Bosan mendengar rengekan gadis itu, akhirnya Boram menghentikan sejenak pekerjaannya.

“Apa yang bisa aku bantu?”

“Sungguh? Kau bisa membantuku?”

Seakan tak percaya, Eunjung mengguncang – guncangkan tubuh mungil Boram dengan tak berprikemanusiaan.

“Yah! Hentikan!”

Eunjung menjadi malu setelah sadar perbuatannya. Ia pun hanya tersenyum memperlihatkan giginya yang rata.

“Maafkan aku.. Hehe.” Kekeh Eunjung.

“Cepat katakan! Apa yang bisa aku bantu.”

“Katakan saja, aku ada urusan yang sangat penting, eumh?”

Boram pun menggangguk dan menyuruh Eunjung segera pergi sebelum makhluk paling mengerikan di tim mereka kembali dari urusannya.

“Terima kasih, Sunbae-yah!!”

Eunjung pun tergesa meninggalkan ruangan kerja mereka. Tak berselang lama, Park Soyeon datang dengan sejumlah berkas ditangannya. Melihat kedatangan pimpinan mereka, para pegawai termasuk Boram merapat ke meja bundar disana.

“Baiklah rapat kali ini kita mulai.”

Sankin sibuk memilah berkas, Soyeon tidak menyadari bahwa salah satu bangku di meja rapat itu kosong. Para pegawai pun hanya bisa menahan tawa karena hal tersebut.

“Eung? Sepertinya ada yang hilang?”

Soyeon menatap satu persatu pegawai termasuk Boram. Akhirnya ia menyadari bahwa seseorang bernama Eunjung telah menghilang dari peredarannya.

“Dimana gadis itu?!” Tanya Soyeon dengan suara falsetnya.

Satu – satunya orang yang berani angkat bicara adalah Jeon Boram. Mengingat mereka bersahabat sudah cukup lama.

“Aku membiarkannya pergi karena dia bilang ada urusan penting.” Papar Boram, datar.

Wajah gadis mungil itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

“YAH JEON BORAM!!!!! KAU!!!”

Ruangan terasa bergetar. Jeritan itu ibarat mengeluarkan jutaan angin tornado yang mampu membuat kertas – kertas melayang bebas di udara.

***

 “Untuk apa kita disini?”

Seorang gadis berseragam sekolah tak henti – hentinya dibuat heran oleh kelakuan kakaknya. Bukan membawa adiknya pulang kerumah, Hyomin justru membawa Jiyeon ke kantor Eunjung. Hyomin memarkirkan mobilnya diseberang jalan kantor publisher majalah tempat Eunjung berkerja.

“Yah Eonni!”

Jiyeon kesal karena Hyomin tidak menanggapi pertanyaannya. Gadis itu terlihat sangat serius memandangi siapapun yang keluar dari kantor tersebut. Akhirnya Jiyeon pun hanya bisa bersabar.

 

15 menit berlalu..

 

“Eonni!! Bukankah itu Eunjung Eonni!! Di mobil silver yang baru keluar dari basement kantor itu!” Seru Jiyeon.

Nyatanya Hyomin lengah. Ia bahkan tidak sadar bahwa Eunjung ada dimobil yang baru keluar.

“Ah.. Iya..”

Hyomin pun berlagak seperti detektif yang tengah menyelidiki sebuah kasus. Ia sengaja membuntuti Eunjung karena penasaran urusan apa yang begitu penting baginya.

Tak begitu jauh jarak antara mobilnya dengan mobil yang sedang diikutinya. Namun betapa tercengang kedua saudara itu ketika melihat mereka tiba didepan sebuah gedung cinema didaerah Jongnu.

“Apa! Tidak mungkin..” Gumam Jiyeon, tak percaya.

“Mungkinkah gadis itu kencan? Dengan siapa?”

Hyomin benar – benar tidak dapat mempercayai hal itu. Sejak kapan pula Eunjung mempunyai teman pria untuk diajak kencan, pikirnya.

“Lihat! Lihat! Itu Eunjung Eonni dengan pria.”

Jiyeon melihat Eunjung yang keluar dari mobil berwarna silver. Raut wajah Eunjung kala itu terlihat sangat berseri dan membuat Hyomin berdecak kesal.

“Cepat cepat buka seatbelt-mu. Kita ikuti mereka!”

Ia terlihat sibuk membuka seatbelt dan memasang kacamata demi sebuah penyamaran.

“Yah Eonni! Untuk apa!”

“Cepat Jiyeonie jika tidak kita akan kehilangan jejak!”

Hyomin membantu adiknya membuka seatbelt tersebut. Ia terlihat sangat tergesa. Jiyeon yang menghadapi sikap kakaknya hari ini terlihat benar – benar frustasi.

“Baiklah!” Seru Jiyeon, kesal.

Setibanya didalam gedung cinema, kedua Park bersaudara itu membuntuti acara kencan Eunjung dari jauh. Mengendap – ngendap bagaikan pencuri. Jiyeon yang berjalan dibelakangnya hanya menopang tangan sambil menatap kelakuan kakaknya yang menunduk – nunduk.

“Apa yang kau makan pagi ini? Apa otakmu bermasalah?” Cerca Jiyeon terus – menerus.

“Hust! Jangan berisik! Kau akan membuat kita tertangkap basah!” Seru Hyomin sangat pelan.

Hyomin sama sekali tidak menatap Jiyeon. Ia terus mamantau Eunjung dan Taecyeon yang sedang mengantri tiket menonton.

Gadis itu menggerutu tidak senang. Ia mencaci Eunjung dalam bathinnya. Bagaimana bisa mereka berkencan di bioskop. Seakan ada maksud tersembunyi dibalik kedatangan mereka kesana.

“Apa mereka akan berbuat mesum?” Terka Hyomin.

“Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Ah.. Jangan – jangan kau yang selalu berbuat mesum di bioskop!”

Terkaan itu justru mendapat cacian untuk dirinya dari sang adik. Jiyeon dengan geram menyenggol bokong kakaknya hingga gadis itu merangkak seperti katak.

“Yah!” Pekik Hyomin sambil beranjak.

Untung saja keberadaan mereka jauh dari tempat pembelian tiket tersebut. Jadi tidak khawatir akan tertangkap basah oleh Eunjung.

“Apa?” Tantang Jiyeon, kesal.

Gadis itu bertolak pinggang menatap tajam kakaknya. Sungguh ia merasa geram dengan tingkah konyol Hyomin hari ini.

“Kau! Dasar adik durhaka!”

“Aku lelah, Eonni! Aku lapar! Aku ingin istirahat! Aku ingin tidur!” Seru Jiyeon tak kalah menggelegarnya.

Namun ocehan Jiyeon tiba – tiba terhenti saat dilihatnya seorang pria dengan gadis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“J-Ju-Jung Jinwoon..” Gumam Jiyeon, lirih.

Hyomin pun memandang kearah yang sama dengan adiknya. Jiyeon merasa hatinya tengah dicabik – cabik oleh sembilu. Perih dan menyakitkan. Bahkan Hyomin saja merasa sangat tepukul, bagaimana dengan adiknya.

“Apa – apaan bocah itu! Berani – beraninya dia..”

“Hiks.. Hiks..”

Jiyeon memotong ocehan sang kakak dengan isak tangisnya. Spontan Hyomin kembali menoleh pada gadis eyeliner itu.

“Yah.. K-K-Kau menangis?”

“Hiks.. Hiks..”

Hyomin memandang iba pada adiknya. Gadis dihadapannya tertunduk menutupi wajahnya.

“Cupcupcup.. Nanti aku belikan permen, eumh? Atau kau ingin makan? Bukankah tadi kau bilang lapar?”

“TIDAK !! AKU INGIN PULANG!”

Respon yang sungguh mengejutkan. Hyomin tiba – tiba tersentak dengan bentakkan itu. Ya, bagaimanapun ia mengerti perasaan adiknya. Apalagi Jiyeon telah menangkap basah kekasihnya keluar dari studio bioskop dengan gadis lain.

“Baiklah.. Baiklah..”

Hyomin terpaksa mengalah. Ia pun merangkul adiknya untuk keluar dari gedung cinema tersebut.

“Ck. Kalau saja kau bukan adikku, kau pasti sudah ku telan hidup – hidup! Kau telah mengacaukan acaraku, Park Jiyeon!” Gumam Hyomin.

***

Cklek~

“Kau darimana saja?”

Gadis itu dengan cepat menyambar gadis lainnya yang baru saja masuk kedalam apartement mereka. Ya, Hyomin memilih berpura – pura tidak tahu dengan kejadian tadi sore.

“Aku habis rapat.. Aku lelah..”

“Kau bohong!” Bathin Hyomin

Dengan malas Eunjung menanggapi gadis itu. Ia berlalu melewati si pemilik bibir sexy tersebut.

“Jiyeon sejak tadi menangis! Ia menangkap basah Jinwoon bersama gadis lain. Aku tidak bisa membujuknya, mungkin hanya kau yang bisa, Eonni!”

Eunjung menghela nafas panjang. Mendengar Hyomin berbicara dengan kecepatan sepersekian detik sungguh membuatnya menjadi sulit bernafas.

“Dimana dia sekarang?”

”Kamar.”

Rasa lelah selalu ditepis Eunjung ketika kedua Park bersaudara itu membutuhkan bantuannya. Meski Eunjung selalu cerewet, tapi ia begitu menyayangi keluarganya melebihi apapun.

Betapa terkejutnya Eunjung saat membuka pintu kamarnya. Dilihatnya sosok gadis berambut panjang duduk dibawah ranjang dan meringkuh sambil menangis. Buntalan tisu pun telah memenuhi seluruh isi kamar itu. Berserakan hingga dimana – mana.

“Yah! Kau menghancurkan kamarku!” Seru Eunjung, keras.

Namun sekeras apapun seruan itu, Jiyeon tetap menangis dan tidak menggubris si pemilik kamar tersebut.

“Park Jiyeon, berhentilah menangis!” Titah sang kakak yang mulai lelah.

“Apa yang terjadi sebenarnya?”

Eunjung mendekat dan melempar tasnya sembarangan. Ia berlutut dihadapan gadis cilik itu dan membelai rambutnya lembut. Begitu pun Hyomin setelahnya. Namun keramahan Eunjung sepertinya membawa bencana untuk dirinya sendiri dan Hyomin.

“Aaaaaaaaaaaaargh! Ini pasti karena Eonni memarahinya kemarin!! Dia berselingkuh dengan gadis lain pasti karena mengira aku mengerikan seperti kalian!!

Jiyeon bagai kerasukan setan. Tanpa sadar ia mencengkram rambut kedua gadis lain disana dan menarik – nariknya tanpa ampun.

“YAH Jiyeonie sakit!!” Seru Hyomin menepuk – nepuk tangan Jiyeon yang sedang bertengger di kepalanya.

“MASA BODOH!! KALIAN PERUSAK HUBUNGANKU!!!!”

Jiyeon semakin mengganas. Entah sudah sekuat apa cengkramannya saat ini. Tanpa aba – aba Eunjung pun mengeluarkan jurus andalannya.

“PARK JIYEON!!!! JIKA KAU TIDAK INGIN MELEPASKAN TANGANMU!! AKAN KU PASTIKAN KAU MATI KELAPARAN!!

Ancaman itu bagai obat nyamuk mematikan. Ia pun segera melepas cengkaramannya dan menggigit jari.

“M-M-Maafkan aku..“

Eunjung mendengus dan membenahi rambutnya yang berantakan. Untung saja ia tidak mengalami kebotakan karena kuatnya cengkraman Jiyeon tadi. Sesaat sebelum mengintrogasinya, Eunjung pun menghela nafas panjang.

“Lalu.. Bagaimana bisa kau tahu Jinwoon kencan dengan gadis lain?” Tanya Eunjung, mulai mengintrogasinya.

“Tadi aku melihatnya saat Hyomin Eonni mengajakku membuntuti acara kencanmu di bioskop.” Jawab Jiyeon, sesenggukan.

“Eh?” Hyomin terkejut.

“APA!!”

Hyomin merutuki kebodohan adiknya. Entah sadar atau tidak, baru saja Jiyeon membongkar segalanya. Matilah kau Park Hyomin.

“Yah Park Jiyeon!” Seru Hyomin setengah berbisik sambil menahan emosi.

PLETAKK!

Pukulan keras mendarat di pucuk kepala Hyomin. Tidak disangka kelakuan Hyomin semakin hari semakin membuatnya gila.

“Eonni.. Bantu aku.. Apa yang harus aku lakukan?” Rajuk Jiyeon.

“Baiklah.. Tunggu!”

Eunjung merogoh ponsel untuk menghubungi seseorang. Ia meminta Jiyeon menyebutkan nomor ponsel Jinwoon. Setelah bunyi ‘tut’ yang ketiga. Suara berat dari seberang sana pun menyapanya.

“Halo, siapa ini?”

“Yah Jung Jinwoon! Dimana kau?”

“I-I-Ini siapa?”

Suara pria itu terdengar ketakutan.

“Aku Ham Eunjung! Datanglah ke rumah! Jika tidak.. aku akan memutuskan hubunganmu dengan Jiyeon!”

Pip~

Eunjung mengakhiri sambungannya. Jiyeon terlihat sangat shock. Bagaimana bisa Eunjung yang mengambil alih hubungannya dengan mengatakan akan memutuskan hubungan diantara mereka.

***

TING TONG TING TONG  

Park Hyomin dan rekannya Ham Eunjung sudah bersiap menghadapi pria yang telah membuat Jiyeon hampir merusak rambut mereka.

Setelah terpampang jelas pria bertubuh tinggi itu. Eunjung dan Hyomin langsung menyeret pria bernama Jinwoon tersebut kedalam.

“Yayaya Noona.. Ada apa lagi ini?”

Jinwoon dibuat menggila lagi oleh sikap saudari – saudari Jiyeon. Dengan keras, Hyomin dan Eunjung menduduki Jinwoon di kursi serta mengikat tangannya seperti seorang tawanan.

Kedua gadis itu sedang mencoba mengeksekusi Jinwoon. Tak berselang lama seorang gadis keluar dari kamarnya. Wajahnya sangat menyeramkan untuk disebut sebagai manusia. Kala itu Jiyeon lebih pantas disebut mayat hidup.

“Ji-Jiyeonie.. Mengapa wajahmu hancur..  Eh.. Maksudku berantakan seperti itu?” Tanya Jinwoon tidak mengerti.

PLAKK !!

Jiyeon mendaratkan sebuah tamparan di pipi pria itu. Sedang Hyomin dan Eunjung hanya berdiri disisi Jiyeon untuk membantu gadis itu.

“Yah.. Mengapa kau menamparku?” Tanya Jinwoon, kecewa.

“Jadi itulah alasan mengapa kau tidak datang ke sekolah hari ini? Lalu siapa gadis itu?!” Tanya Jiyeon.

“Gadis apa?”

Sungguh Jinwoon dibuat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Jiyeon.

“Di bioskop tadi sore!” Tegas Hyomin.

“Ah.. Itu.. Dia Lee Ahreum, sepupuku yang baru datang dari L.A. Aku tidak sekolah karena menjemputnya di bandara.” Jawab Jinwoon, memelas.

“Bohong!” Tuduh Hyomin.

“T-T-Tidak Noona.. Kalau kau tidak percaya video call saja dia.”

Eunjung, Hyomin, dan Jiyeon saling memandang. Mereka sebenarnya sangsi dengan pernyataan Jinwoon. Namun untuk menemui titik cerah, Jiyeon pun merogoh ponsel dari balik kantong celana kekasihnya.

“Yayaya Jiyeonie geli!”

Jinwoon tertawa menahan geli. Tapi dengan cepat Eunjung membungkam mulutnya dengan ‘chicken big size’ yang kebetulan ada didekat sana.

Ketiga gadis itu pun membelakangi Jinwoon dan menanti jawaban dari seorang gadis bernama Lee Ahreum.

“Halo.. What happen Jin.. Huh? Yah who are you?!”

Gadis itu memandang heran Eunjung, Hyomin, dan Jiyeon dari seberang layar ponselnya. Gadis tersebut pun seperti sedang memastikan bahwa yang mem-video call-nya adalah Jinwoon, sepupunya.

“K-Kau..”

Eunjung terhenti sebelum melanjutkan ucapannya. Ia pun meraih ponsel dari tangan Jiyeon dan berbalik memandang Jinwoon.

“Yah Jinwoon-ah.. Apa dia bisa berbahasa korea?” Bisik Eunjung.

Jinwoon hanya mengangguk, karena mulutnya masih tersumpal chicken. Layar itu tak sengaja Eunjung hadapkan kearah Jinwoon dan membuat Ahreum terlonjak. Ekspresinya sangat terkejut melihat Jinwoon seperti tawanan.

Hey! What are you doing!! Are you crazy!!! Why you asdfghijklm%:;#-‘”&~!!!”

Eunjung melongok dan menjauhkan layar ponsel itu dari hadapannya. Hyomin dan Jiyeon menganga mendengar suara dari dalam ponsel itu. Bagaimana bisa Ahreum berbicara menggunakan bahasa asing dengan sekali nafas saja. Eunjung pun langsung menutup sambungan teleponnya.

“Eung?” Dengus Hyomin dan Jiyeon.

“A-Apa yang dia katakan?” Tanya Eunjung terpaku.

“Uu..Aa..Uu..Eumm..”

Betapa bodohnya ketiga orang disana yang terus mengajak Jinwoon bicara, sedangkan mulut pria itu masih tersumpal chicken.

“Hah.. Huh.. Hah..” Leguh Jinwoon setelah chicken itu berhasil lepas dari mulutnya.

“Jadi benar dia sepupumu? Lalu apa yang dikatakannya tadi?”

Intrograsi Eunjung masih berlanjut. Sedang Jiyeon dan Hyomin cukup menjadi pendengar yang baik saja.

“Tentu benar!! Tadi dia marah karena melihatku seperti tawanan. Dia marah karena kalian memperlakukan seperti orang gila.” Papar Jinwoon, memelas.

Eunjung pun mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan Jiyeon dengan cepat melepaskan tali yang mengikat tubuh kekasihnya lalu menghambur ke pelukan Jinwoon dengan manja. Namun sebelum hal itu terjadi, tentu Hyomin dan Eunjung melerai mereka. Hyomin menarik baju Jiyeon sedangkan Eunjung menarik baju Jinwoon untuk menjauh.

“Yah Eonni!” Rajuk Jiyeon.

“Kau itu wanita, bagaimana bisa kau sangat agresif!” Seru Hyomin, marah.

“Nah! Jinwoon, karena masalah sudah selesai. Jadi kau boleh pulang..” Titah Eunjung dengan ramah.

“T-T-Tapi aku..”

“Apa?” Tanya Hyomin, meninggikan suaranya.

“A-A-Ku.. T-T-Tidak..”

Jinwoon dengan cepat berlalu meninggalkan gadis – gadis itu.

“Aishh sial! Bahkan aku belum mendapat ciuman dari Jiyeon.” Gumam Jinwoon sambil mengacak – acak kepalanya frustasi.

“Aaaargh kalian selalu saja mengganggu!” Seru Jiyeon yang terlihat kecewa.

***

Pukul 19.00 KST, seorang gadis dengan hotpants dan kaos putih besar tengah berlalu lalang disekitar area dapurnya. Peluh yang membasahi dahinya tidak lagi ia hiraukan demi menciptakan makan malam special untuk seseorang yang special.

Ditengah keseriusan gadis itu, lagi – lagi seorang gadis berambut panjang tergerai merecoki si pembuat makan malam tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan Park Hyomin.

“Ya Eonni.. Kau buat apa?”

Dengan wajah tanpa dosa, ia menaruh dagunya disela – sela leher gadis berhotpants itu. Mengintip masakan gadis tersebut dari balik celah lehernya.

“Yah!! Geli!!”

“Huaaaaa spagetthi !!” Jerit Hyomin begitu antusias.

Tangan gadis itu dengan cepat menyambar salah satu piring yang ada di meja dapur tersebut. Namun dengan cepat pula Eunjung menepis punggung tanggannya dengan sumpit.

“Enak saja!! Lebih baik kau ajak Jiyeonie makan diluar. Karena malam ini aku tidak akan membuatkan makan malam untuk kalian.” Ujar Eunjung dengan santainya.

“Apa? Lalu dua piring spagetthi itu?”

“Untukku dan seseorang yang special tentunya.”

Eunjung meninggalkan Hyomin dan menyisakan tanda tanya besar dikepalanya. Ia berjalan menuju meja sofa dengan dua piring spagetthi ditangannya.

“Untuk siapa? Apa pria bertubuh kekar itu?!” Tanya Hyomin, kesal.

TING TONG TING TONG

“Cepat bukakan pintunya! Nanti kau akan tahu siapa yang ku maksud.”

Secepat kilat, Hyomin berlari ke layar monitor. Dan ternyata benar apa yang ada dipikirannya. Pria itu, pria kekar itulah yang membuat Eunjung menggila. Hyomin pun terpaksa harus membuka pintu tersebut.

“Anyeonghase..!”

Pria itu tertegun saat yang dilihatnya bukanlah gadis yang ingin ditemuinya.

“A-Apa benar ini rumah Ham Eunjung?” Tanya Taecyeon dengan ragu.

“Masuklah Taecyeon-ssi!” Titah Eunjung dari ruang tamunya.

Eunjung terlihat sedang menata meja sofa itu dengan berbagai pernak – pernik dan masakan yang telah ia siapkan.

Tanpa permisi, Taecyeon pun melewati Hyomin yang merasa kesal.

“Aishh bahkan mereka tidak menganggapku ada?!” Bathinnya.

Dengan segera Hyomin mengekori Taecyeon dan duduk bersama disofa single dekat sofa panjang yang diduduki mereka.

Dilihatnya Taecyeon mencium kening gadis berambut pendek tersebut sesaat sebelum duduk. Hal itu jelas membuat Hyomin panas, entahlah.

“Yah.. Sedang apa kau disana? Cepat masuk kekamar.” Titah Eunjung, pelan.

“Eh? A-Aku..”

Taecyeon menatap Hyomin dengan tatapan aneh. Begitupun dengan Eunjung. Namun dengan sejuta akal bulus yang dimiliki gadis cantik itu, ia pun tak harus kesulitan. Dengan cepat Hyomin meraih remote tv di meja tersebut lalu menekan tombol on.

“Yah!” Pekik Eunjung tidak peduli bahwa ada seorang pria didekatnya.

“Aku ingin menonton berita. Aku dengar ada kasus penculikan gadis cantik. Penculik itu sepertinya sedang mengintaiku.” Oceh Hyomin, mengada – ada.

“Omong kosong!” Cela Eunjung.

Taecyeon hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah kedua gadis disana. Hyomin sepertinya memiliki rasa percaya diri yang berlebihan. Ia berpikir karena dirinya cantik, maka penculik itu tengah mengintai keberadaannya. Haha sungguh menggelikan.

Lelah menanggapi gadis itu, Eunjung pun berpikir untuk mengganggapnya pajangan disana.

“Sudahlah, lebih baik kita makan.”

Eunjung mengelap sumpit yang akan menjadi penyuap Taecyeon. Malam ini, Eunjung terlihat berbeda. Hal itu dirasakan pula oleh Hyomin. Diam – diam Hyomin mencibir mereka yang tidak mempedulikannya. Bahkan volume keras tv telah mengisi seluruh penjuru apartemen tersebut.

“Yah!!! Pelankan suara tv itu!!”

Tiba – tiba seorang gadis lain keluar dari kamarnya karena kesal mendengar suara gaduh disana. Mendengar pekikan yang tak kalah menggelegarnya dari suara tv, membuat Taecyeon yang baru menelan suapan pertamanya menjadi tersedak.

“Uhuk.. Uhuk.”

“Eh? Kau baik – baik saja?”

Dengan cemas, Eunjung menepuk – nepuk punggungnya lalu memberinya minum. Sesudah itu Eunjung memandang Hyomin dan Jiyeon silih berganti. Ia geram karena tingkah kedua bocah tersebut.

Padahal Eunjung berharap dalam situasi seperti ini, mereka bisa berbaik hati untuk tidak membuatnya gila. Tapi nyatanya mereka benar – benar menggila.

“Kau tahu aku sedang belajar!! Soal matematika yang memusingkan ini bertambah pusing karena suara tv-mu!” Bentak Jiyeon.

Hyomin yang sama kesalnya karena mendapat bentakan dari adik sendiri, segera bangkit dan memakinya.

“Salah sendiri mengapa kau bodoh! Jika kau pintar semua soal pasti akan sangat mudah, bukan?”

“Yah! Aku bodoh pun karena menurun darimu!”

“Yah!” Pekik Hyomin, geram.

“Cukup! Hentikan!”

Eunjung bangkit dan menjerit hingga membuat meja dihadapannya bergetar, api lilin meredup dan sumpit – sumpit berjatuhan.

“Eng.. Eunjung-ah..” Ujar Taecyeon sambil menarik tangan Eunjung untuk duduk kembali.

“Diam kau! Aku ingin memberi pelajaran untuk kedua kurcaci itu!” Bentak Eunjung, tanpa ia sadari siapa yang sedang dibentak olehnya

Hyomin dan Jiyeon terbelalak melihat Eunjung membentak pria yang tengah makan malam bersamanya. Tanpa rasa bersalah, perlahan – lahan kedua gadis itu melangkah dan berlari ke kamar. Dan membuat emosi Eunjung semakin memuncak.

Taecyeon pun bangkit dan merangkul Eunjung dengan lembut.

“Tadinya aku ingin mengatakan sesuatu.. Tapi sepertinya tidak bisa sekarang. Besok aku akan kembali, eumh?”

Mendengar pernyataan itu, Eunjung terlihat sangat shock. Apa pria itu merasa bahwa dirinya bodoh? Atau bahkah gila? Pikir Eunjung.

“K-Kau marah?”

“Tidak.. Aku tidak marah.”

Taecyeon mengusap pucuk kepala Eunjung dan berlalu setelahnya. Betapa miris hidup Eunjung. Bahkan disaat moment yang paling ia nantikan, justru ia harus mendapat masalah karena kedua kurcaci nakal tersebut.

Sesaat setelah kepergian Taecyeon. Wajah Eunjung terlihat seperti orang kerasukan. Ia pun bergegas menghampiri kedua kurcaci yang tengah mengumpat didalam kamar satu – satu mereka.

“YAH!!”

Setelah berhasil menemukan mereka. Eunjung membuang mereka keluar kamar tersebut dengan seenaknya.

Bugh. Bugh. Suara tubuh berjatuhan. Dimana Jiyeon kini terjatuh diatas tubuh mungil Hyomin. Sungguh menyedihkan.

“Yayayaya! Cepat bangun!” Pinta Hyomin yang hampir tidak bisa bernafas.

“KALIAN!! JANGAN HARAP BISA TIDUR DIDALAM KAMAR LAGI!! TERSERAH KALIAN INGIN TIDUR DIMANA!! SOFA, DAPUR, TOILET BAHKAN PINGGIR JALAN SEKALIPUN!! AKU TIDAK PEDULI!”

PRANGGG!

Suara daun pintu yang tertutup keras membuat Hyomin dan Jiyeon tercengang. Ini pertama kalinya Eunjung begitu marah. Bahkan sangat marah.

Mereka memandang pintu tertutup itu dengan sedih.

“Ini semua karenamu, Park Jiyeon! Kalau kau tidak tiba – tiba keluar dari kamar dan menjerit – jerit seperti orang gila, mungkin nasib kita tidak akan menyedihkan seperti ini!!”

“Yah! Kau juga salah MINIE MOUSE! Kalau kau tidak disana dan menyalakan tv dengan volume besar, mungkin aku tidak akan kesal!”

BUGH.. BUGH..

Dua bantal mendarat dengan cantik diwajah kedua gadis itu. Eunjung kembali menampakan dirinya dari balik pintu dan memandang mereka dengan garang.

“KALIAN BERDUA SAMA SAJA! JADI TIDAK PERLU SALING MENYALAHKAN!! KALAU SAMPAI KALIAN TIDAK MENGUBAH TABIAT BURUK KALIAN, MAKA AKU TIDAK SEGAN – SEGAN UNTUK MENGUSIR KALIAN, MENGERTI?!”

Eunjung kembali menghempaskan daun pintu dengan keras, hingga kedua tubuh gadis disana melonjak karena terkejut.

***

“Eonni bangun!! Eonni!! Yah Eonni!!”

Pagi yang masih lengah dan belum menampakan seberkas sinar apapun terdengar gaduh karena kekhawatiran seorang gadis berambut ikal tersebut.

Ia terus menggedor – gedor pintu kamar yang terkunci rapat. Sepertinya si empunya kamar masih tertidur pulas layaknya orang mati. Dengan sekuat tenaga gadis itu terus menggedor tanpa rasa putus asa.

“YAH HAM EUNJUNG CEPAT BANGUN!! GAWAT!! INI DARURAT!!”

Dug. Karena tanpa sadar pintu telah terbuka, gadis yang ternyata Jiyeon tak sengaja memukul kening Eunjung. Sontak sang pemilik kening terlonjak dan membuka matanya lebar – lebar.

“Kau! Lagi – lagi..”

“Eonni, jangan marah dulu.. Ini bukan saatnya kau seperti bibi – bibi.. Ada hal gawat!! Minie mouse.. Eh.. Park Hyomin.. Eonni..”

Jiyeon terlihat sangat panik kala itu. Ia berbicara panjang lebar dengan kata yang sebenarnya menjengkelkan.

“Ada apa dengan bocah itu?”

“Dia menghilang.. Sepertinya dia kabur dari rumah? Bagaimana ini?!”

“Biarkan saja..”

Mata Eunjung masih sangat berat untuk dibuka, ia bahkan sadar tidak sadar apa yang sudah ia ucapkan. Tubuhnya bersandar pada tiang pintu dan bergelayut pada daun pintu yang dibuka setengah olehnya.

“Kau keterlaluan!”

Tanpa perintah, gadis manja itu merajuk dan menangis sambil menjerit – jerit. Entah setan apa yang sudah merasuki dirinya. Jiyeon bertingkah seperti anak ayam kehilangan induknya.

Sangat jelas hal itu membuat Eunjung yang mengantuk setengah mati menjadi tidak mengantuk sama sekali. Ia berdiri dengan tegap dan mencoba menenangkan anak yang satu itu.

“Coba katakan! Apa yang membuatmu berpikir bahwa kakakmu itu kabur, eung?”

“Ini..”

Jiyeon menyerahkan secarik kertas. Ia mengirup kembali ingus yang hampir lolos dari lubang hidungnya dan mengapus air matanya seperti anak kecil.

Maafkan aku.. Opp.. Eh.. Eonni.. Aku benar – benar merasa bersalah atas kejadian semalam. Aku sering menyusahkanmu. Tapi itu aku lakukan karena aku ingin perhatianmu hanya tertuju padaku.. Bukan untuk pria bertubuh kekar itu ataupun adikku sendiri, Jiyeonie. Aku harus memikirkan sikapku yang sudah keterlaluan ini. Aku akan kembali saat aku sudah merasa lebih baik. Maaf.. Sungguh aku minta maaf.

“Mungkin dia hanya pergi sebentar.. Nanti sore atau malam, dia pasti kembali.”

Dengan entengnya Eunjung melontarkan kalimat tersebut. Tidak tahu bahwa Jiyeon sudah sangat mengkhawatirkan kakaknya. Bisa saja Hyomin nekat terjun ke sungai Han. Atau lebih ekstrimnya nekat berjalan ditengah rel kereta api.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaargh!” Pekik Jiyeon setelah mengakhiri pikiran – pikiran kotornya.

“Yah! Jangan berteriak seperti itu!”

“Masa bodoh! Kau sangat keterlaluan! Aku benci!”

“Yayayaya.. Baiklah.. Lalu apa yang harus kita lakukan? Menghubungi polisi?”

Eunjung berkali – kali lebih panik jika adik sepupunya mengatakan bahwa mereka membencinya. Tak menampik bahwa darah memang lebih kental daripada air. Itulah sebabnya ia merasa sangat sakit jika mereka mengacuhkannya.

“Aku tidak tahu! Hiks.. Hiks..”

“Yasudah, aku mencuci muka dulu. Sepertinya aku tahu keberadaan bocah itu.”

Jiyeon pun mengangguk.

Tidak sampai lima menit, Eunjung sudah siap membawa Jiyeon mencari kakak kesayangannya itu.

Dengan tidak sabaran, Jiyeon menekan tombol lift agar pintunya terbuka. Namun setelah pintu lift itu terbuka, Eunjung dibuat sangat terpaku. Bagaimana bisa sepagi itu, Taecyeon berada disekitar apartemennya.

“Eh.. Taecyeon-ssi..”

“Kau ingin pergi?”

Posisi yang masih dibatasi oleh garis lift membuat mereka terganggu ketika pintu lift akan tertutup.

“Jiyeonie.. Kau tunggu aku di mobil saja, aku akan menyusulmu.”

Ekspresi Eunjung pagi itu sangat serius. Apa ini menyangkut kejadian semalam?

“Baiklah..”

Jiyeon meraih kunci mobil yang disodorkan oleh sepupunya tersebut. Taecyeon pun keluar dari lift saat Jiyeon memasuki lift itu.

Masih ditempat yang sama, didepan lift yang bisa saja mengeluarkan orang lain, Eunjung dan Taecyeon saling menatap, lekat. Dan sedetik kemudian, Taecyeon membawa Eunjung kedalam pelukannya.

“Eunjung-ah.. Aku akan pergi jauh..”

Deg. Jantungnya bagai berhenti selama beberapa detik. Hatinya mencelos. Rasanya seperti ada yang bergelayut didalam organ tubuhnya. Berat dan sakit hingga tak tertahankan.

“M-M-Mengapa? Apa kau marah?”

Dalam dekapnya Eunjung menangis. Air mata tidak bisa ia sembunyikan lagi. Taecyeon merasa kemejanya kini dibanjiri air mata Eunjung.

“Bukan.. Aku.. Aku dipindah tugaskan ke cabang yang ada di Thailand. Jika cabang itu sudah besar seperti disini, mungkin aku akan kembali. Tapi..”

Taecyeon menggantungkan kalimatnya. Eunjung pun melepas diri dari dekapan Taecyeon dan menatap manik matanya.

“Tapi apa?” Tanya Eunjung, tidak sabaran.

“A-Aku tidak tahu kapan aku bisa dikembalikan kesini.. Aku berharap, kau ingin menungguku?”

Beban Eunjung terasa berkurang. Setidaknya kata – kata tersebut bermakna positif baginya.

Taecyeon meraih kedua pipi Eunjung dan menatapnya sangat dalam.

“Tunggu aku.. Aku berjanji akan datang padamu. Aku.. Mencintaimu, Eunjung-ah..”

Tanpa ragu, Eunjung mengangguk dengan cepat. Air mata terus saja membanjiri wajah cantiknya. Namun Taecyeon dengan sigap menyeka air mata itu dan mendaratkan kecupan dipucuk kepala gadis tersebut.

20 menit kemudian..

Eunjung dan Taecyeon berpisah dibasement. Eunjung pun segera menghampiri Jiyeon yang sudah lama menunggunya. Begitu masuk, tidak heran jika Jiyeon memakinya. Tapi lagi – lagi, Eunjung menangis. Rasanya sangat sedih ketika ditinggalkan oleh pria yang dicintainya. Bahkan dalam kurun waktu yang belum pasti.

“Yah Eonni.. A-A-Ada apa denganmu? Mengapa kau menangis? Apa pria itu memarahimu? Atau dia menyakiti perasaanmu? Cepat, katakan? Ada apa?”

Bukan menghibur, Jiyeon justru membuat Eunjung semakin frustasi dengan pertanyaan – pertanyaannya. Eunjung pun tidak menggubris pertanyaan itu dan mengalihkan semuanya.

“Tidak ada yang harus kau ketahui, kurcaci kecil! Sebaiknya kita pergi sebelum Park Hyomin masuk koran karena mengapung disungai han.”

“Uh? Yah!”

Lagi – lagi Eunjung tidak menggubris gadis itu dan langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh.

***

“Huh!”

Sejak hari masih lengah, gadis itu terus mengeluh, mendengus, serta menghela nafas sia – sia. Ia duduk diatas bukit sambil bersandar disebuah batu nisan yang sudah kusam.

Gadis itu, Park Hyomin. Ia merasa terbebani karena menjadi biang masalah untuk sepupunya sendiri. Tapi semua itu ia lakukan karena tidak ingin kehilangan perhatian gadis tersebut.

Tiba – tiba Hyomin menatap lurus kebawah bukit sambil menerawang masa – masa indah kecilnya.

 

-Flasback-

 

“Huhuhuhu.. Huhuhuhu.. Huhuhuhu..”

Gadis kecil berkuncir kuda itu merengek karena mendapat perlakuan tidak baik. Ia menghampiri gadis kecil yang sedang berlatih taekwondo dan mengadu tentang perbuatan seseorang yang menjailinya.

Ya, Hyomin kecil saat itu sangatlah cengeng. Bahkan karena ketidaktahuan adiknya, Hyomin bisa saja tiba – tiba menangis.

“Ada apa, Hyominie?”

Gadis yang tadi sedang berlatih taekwondo itu langsung mengelus rambut Hyomin.

“Jiyeonie.. Dia menarik kuncir kudaku..”

“Ah.. Dasar bocah nakal.. Berani – beraninya dia memperlakukan tuan putriku seperti itu. Cupcupcup, jangan menangis. Nanti aku akan memarahinya, eumh?”

 

-Flasback End-

 

Saat itu usia Hyomin masih lima tahun, sedangkan Jiyeon baru berusia satu tahun dan Eunjung enam tahun. Mereka sering bermain dengan akur saat kecil dan Eunjung pun selalu menjaga mereka dengan baik. Tapi entah mengapa, setelah dewasa mereka lebih sering bertengkar karena hal sepele. Bahkan Eunjung tidak lagi menunjukkan perhatiannya seperti sedia kala.

“Ishh! Menyebalkan!”

Jika saja rumput yang sedang ditarik – tarik dan dibuang begitu saja oleh Hyomin bisa berbicara. Mungkin rumput itu akan berkata ‘Dasar gadis tidak berprikemanusian! Itulah mengapa sepupumu mengabaikanmu. Karena kau sangat kejam. Kau mencabik – cabikku dan membuangnya sesuka hatimu’. Namun sayangnya rumput tidak akan pernah bisa bicara. Dan Hyomin tidak akan pernah bisa mendengar bahasa rumput.

“Tidak ada gunanya kau menyakiti rumput itu!” Seru seseorang.

“Uh? Eon.. Eonni!”

Eunjung pun mengambil posisi duduk disamping kanan Hyomin dan Jiyeon disamping kirinya. Mereka bertiga duduk berdampingan sambil meluruskan kaki mereka. Hyomin masih tidak percaya bahwa seseorang yang baru saja bergentayangan dipikirannya tadi, tengah duduk disisinya. Ia pun memandang Eunjung dari samping.

“Eonni.. Kau tidak boleh sembarangan pergi tanpa izinku!” Seru Jiyeon seraya memeluk gadis itu dari samping.

“Mengapa? Bukankah kau senang jika aku tidak ada?”

Jiyeon menggeleng tidak setuju dan Eunjung tersenyum pahit mendengar ucapan dramatis seperti itu.

“Baiklah.. Tidak akan.. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Hyomin menepuk – nepuk lengan yang melingkar dilehernya. Dan mengelus rambut adik satu – satunya dengan tangannya yang lain.

“Dasar kurcaci bodoh! Bocah tidak tahu diri! Menyebalkan! Mengapa kau selalu membuatku khawatir?!” Ujar Eunjung dengan nada bicara yang lebih halus.

Gadis yang sedang dimarahi hanya menoleh dan memandangnya malu. Ia merasa senang, bukankah kalimat seperti itu adalah kalimat yang menunjukkan rasa sayang?

“Maaf..”

Akhirnya Eunjung mendengar kata yang ingin ia dengar langsung sejak tadi.

“Aku.. Aku takut kehilanganmu.”

Hyomin melepas dekapan Jiyeon dan menggelayutkan kedua tangannya dilengan Eunjung yang berisi. Ia menyandarkan kepala itu perlahan. Rasanya sangat nyaman. Hyomin merasa lebih baik saat itu.

“Kau tidak boleh memberi perhatianmu pada siapapun melebihi kami.”

“Ya. Benar!” Timpal Jiyeon.

“Tapi..”

“Aku merasa takut saat kau mulai jatuh cinta pada pria kekar itu.”

Rasanya Eunjung ingin tertawa terbahak – bahak. Darimana ia belajar ekspresi menyedihkan seperti itu. Sungguh bukan gaya Hyomin, pikirnya.

“Tapi.. Aku ini gadis normal. Aku berhak mencintai siapapun!”

“Bukan itu maksudku.. Aku hanya tidak ingin, kelak kau menikah dengannya dan meninggalkan kami.”

“Ya.. Itu.. Tentu aku harus menikah!”

“Yah!” Pekik Jiyeon, kecewa.

“Hust! Diam kau bocah kecil!” Seru Hyomin yang tidak ingin Jiyeon ikut campur.

Hyomin menjauhkan dirinya. Ia menatap Eunjung kecewa. Matanya terlihat berkaca – kaca. Bagaimana dengan nasib mereka jika tidak ada Eunjung yang mengurusi, pikirnya.

“Benarkah? Lalu aku dan Jiyeonie?”

“Kalian akan tumbuh menjadi dewasa dan kalian tidak boleh terus bergantung padaku..”

Kali ini Eunjung benar – benar sangat lembut. Mungkin benar pemikiran Hyomin saat itu. Bahkan ia sendiri tidak pernah berpikir bagaimana keadaan kedua kurcaci nakal itu saat dirinya kelak menikah.

Melihat tidak ada respon dan kedua Park bersaudara itu tertunduk sedih, rasanya Eunjung sangat tidak berguna.

“Baiklah.. Setidaknya kita masih bisa tinggal dan jalan bersama.. Karena mungkin Taecyeon tidak akan menemuiku lagi.”

“Apa?!” Pekik Jiyeon.

Memang tidak sopan gadis yang satu itu. Ia tidak bisa membedakan tempat mana yang diperbolehkan untuk berteriak. Apa gadis itu tidak sadar bahwa dirinya tengah berada dipemakaman? Bagaimana kalau mayat – mayat itu bangun karena terkejut? Tapi rasanya juga tidak akan mungkin..

“Kau? Apa kau dan Taecyeon berpisah?” Tanya Hyomin yang diam – diam tersenyum dalam hatinya.

Eunjung menggeleng dan membuat senyum dihatinya memudar.

“Lalu?”

“Pria itu akan tinggal di Thailand dalam kurun waktu yang tidak pasti.. Jadi mungkin aku tidak akan sibuk lagi untuk berkencan.”

“Huh.. Baguslah..” Ucap Jiyeon, menghela nafas lega.

“Jadi kau juga mungkin tidak akan pernah menikah dengannya?”

“Enak saja!!”

Eunjung menepak kepala belakang Hyomin karena anak itu berbicara seenaknya. Jiyeon melonjak terkejut dengan reaksi Eunjung saat itu.

“Yah! Sakit!”

Gadis itu mengelus – elus belakang kepalanya.

“Aku yakin saat Taecyeon kembali nanti, ia akan mendatangiku dan melamarku.” Angan Eunjung.

“Itu sama saja kau akan meninggalkan kami.”

Hyomin dan Jiyeon saling berpelukan seakan mereka adalah kedua bersaudara yang akan dibuang oleh Ibu kandung mereka sendiri.

“Baiklah.. Jika kalian berjanji tidak akan membuatku seperti orang gila lagi. Aku akan mengizinkan kalian tinggal bersama kami. Tapi tentu tidak untuk tidur seranjang denganku dan Taecyeon.”

“Benarkah? Benarkah Opp.. Eh.. Eonni?”

Hyomin memeluk Eunjung dengan erat dari samping. Lalu ditimpali Jiyeon yang memeluk Hyomin dari sisi kirinya. Mereka berpelukan seperti film kartun teletubies. Namun hal itu tidak disambut baik. Sebab Hyomin memeluknya dengan tidak berprikemanusiaan. Eunjung hampir saja tidak bisa bernafas karenanya.

“Lepas!! Cepat lepas!!”

Gadis itu terkekeh sankin bahagianya. “Ah.. Karena hatiku sangat senang.. Aku punya lagu yang cocok untuk keluarga bahagia kita ini!” Papar Hyomin yang membuat bulu kuduk Eunjung begidik.

Akankah secepat ini Hyomin berubah? Akankah secepat ini gadis itu kembali dengan kekeonyolannya? Pikiran – pikiran itu saling beradu dikepala Eunjung.

“Apa? Apa?”

Sifat keingintahuan Jiyeon terkadang menyebalkan. Tapi sifat seperti itulah yang terkadang membuat kedua gadis dewasa disana merindukannnya.

“Tiga beruang!” Seru Hyomin.

Dan benar. Kini Eunjung kembali menghela nafas panjang. Sepertinya memang ada yang salah dengan otak gadis itu. Sejak kapan pula beruang menjadi satu species dengan manusia.

Hyomin mulai bersiap dengan aba – abanya. Ia pun mulai menyenandungkan lagu tersebut dengan riang.

“Gom semari-ga, hanjibeisseo.. Appa gom!!”

Eunjung terbelalak ketika Hyomin menunjuk kearahnya. Kesal, mungkin saja. Karena gadis itu telah menyamakan dirinya seperti ayah beruang.

“Yah!! Aku ini manusia bukan beruang! Lagipula aku ini wanita!” Seru Eunjung, sedikit kesal.

“Anggap saja seperti itu, Eonni.” Ujar Hyomin, mengerlipkan kedua matanya genit.

“Iya. Bukankah kau seperti ayah yang selalu melindungi kami!”

“Tapi aku bukan beruang!!”

“Omma gom.” Lanjutnya sambil menunjuk dirinya sendiri dan tidak menggubris protesan Eunjung.

“Aegi gom.”

Hyomin pun menunjuk Jiyeon sebagai ‘Aegi’.

“Appa gom-eun ttungttunghae.. Omma gom-eun nalssinhae.. Aegi gom-eun neomu gwiyeowo.. Euseuk euseuk jalhanda..”

Hyomin merangkul mereka bersamaan. Rasanya mereka seperti beruang yang hidup bahagia. Ya, seperti lirik dalam lagu itu. Tiga beruang yang tinggal dalam satu rumah dimana ada Ayah beruang, Ibu beruang, dan bayi beruang. Dimana Ayahnya gemuk, Ibunya langsing, dan bayinya lucu. Pokoknya persis seperti kehidupan Eunjung, Hyomin, dan Jiyeon. Itulah mengapa Hyomin bersenandung riang.

“Ayo kita ulangi sekali lagi!! Lakukan seperti apa yang kulakukan, tunjuk bagian diri kalian masing – masing saat berseru kata Appa, Omma, dan Aegi, eumhh?!” Rajuk Hyomin.

Jiyeon menyambut baik ide itu. Karena ia sangat senang. Namun tidak dengan Eunjung yang berpikir itu sangat konyol.

“Baiklah..”

Dengan berat hati, akhirnya Eunjung menyetujuinya.

Senandung pun diawali oleh suara manis Hyomin dan langsung dilanjutkan oleh kedua orang disana.

 

Gom semariga hanjib-eiss-eo

Appa gom

Omma gom

Aegi gom

Appa gom-eun ttungttunghae

Omma gom-eun nalssinhae

Aegi gom-eun neomu gwiyeowo

Euseuk euseuk jalhanda..

 

Akhir lagu mereka pun saling berpelukan. Tidak menampik bahwa saat itu Eunjung pun merasa sangat bahagia. Kebersamaan yang sudah lama hilang karena kesibukannya, kebersamaan yang hilang karena ia menjauhkan diri dari kurcaci – kurcaci yang selalu membuatnya gila itu akhirnya kembali terasa. Entah sampai kapanpun, Eunjung tidak dapat memikirkan kapan kedua kurcaci itu akan berhenti membuatnya gila. Selagi kedua otak mereka bermasalah, mungkin selama itu pula ia akan semakin dibuat gila.

“Baiklah.. Aku sudah dewasa.. Aku hanya perlu menganggap kalian sebagai anak autis yang membutuhkan perhatianku. Heu, sepertinya lagu ‘I go crazy because of you’ akan menjadi lagu favoritku sepanjang masa.” Bathin Eunjung sambil tersenyum sepat.

 

-The End-

 

NB : Kalau ada salah kata dan cerita yang tidak menyenangkan mohon di maafkan. Jangan lupa tinggalkan jejak. Menulis itu hal yang sangat menyenangkan, namun akan lebih menyenangkan jika imajinasi sang penulis dihargai. Happy reading ^^

Sebelumnya FF ini pernah di posting di EunMin Shipper Indonesia dan Flawless Shipper Blog  Dan kembali saya posting di website sendiri ^^

Leave a Reply